MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN NON TES

PENILAIAN BERBASIS WAWANCARA

Kelompok 6

Dosen Pengampu : Maria Agustina Amelia S.Si,M.Pd.

Disusun Oleh :

Meri Supianti                        171134010

Etrin Rhut N                         171134042

Dyah Nur Imansari               171134195

Magdalena Kintan Laura      171134126

Terisiana Suci                       171134083

Engelbertus N                       171134032

Brigita Vio                            171134045

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2018

BAB 1

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Wawancara merupakan salah satu metode pengumpulan data untuk  mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.  Apabila wawancara dijadikan satu-satunya alat pengumpulan data atau sebagai metode diberi kedudukan yang utama dalam serangkaian metode-metode pengumpulan data lainnya dan akan memiliki ciri sebagai metode primer.

Sebaliknya jika digunakan sebagai alat untuk mencari informasi-informasi yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain, ia akan menjadi metode perlengkap. Pada saat-saat tertentu metode wawancara digunakan orang untuk menguji kebenaran suatu datum yang telah diperoleh dengan cara lain, seperti observasi, test, kuesioner dan sebagainya. Digunakan untuk keperluan semacam itu metode wawancara akan menjadi batu pengukur atau kriterium.

Dalam tiga golongan fungsi itu tidak implicit bahwa golongan yang satu mempunyai harga yang lebih tinggi dari yang lain. Sebagai metode primer wawancara mengemban tugas yang sangat penting. Sebagai pelengkap metode wawancara menjadi sumber informasi yang sangat berharga dan sebagai kriterium menjadi alat yang memberikan pertimbangan yang memutuskan.

BAB II

Pembahasan

  1. Pengertian Penilaian Berbasis Wawancara

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-ahal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit. Ada beberapa faktor yang akan  mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu : pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.

Menurut Nasution (2002:113), wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk pengumpulan data yang banyak digunakan dalam penelitian desktiptif,  kualitatif, dan deskriptif kuantitatif. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara idivdual. Terkadang wawancara dilakukan secara kelompok jika memang tujuannya untuk menghimpun data dari kelompok seperti wawancara kepada keluarga, pengurus yayasan, pembina pramuka dan lain sebagainya (Riduan, 2005). Wawancara yang ditujukan untuk memperoleh data individu dilaksanakan secara individual. Pewawancara adalah petugas pengumpul informasi yang diharapkan dapat menyampaikan pertanyaan dengan jelas. Responden adalah pemberi informasi yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Dalam pelaksanaan wawancara diperlukan kesediaan dari responden untuk menjawab pertanyaan.

Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian (Cresswell, 2008) bentuk pertanyaan atau pernyataan bisa sangat terbuka sehingga responden mempunyai keluasan untuk memberikan jawaban atau penjelasan.

Situasi wawancara berhubungan dengan waktu dan tempat wawancara. Waktu dan tempat wawancara tidak tepat dapat menjadikan pewawancara menjadi canggung untuk mewawancarai dan respondenpun merasa enggan untuk menjawab pertanyaan.

  • Berdasarkan sifat pertanyaannya, wawancara dibedakan menjadi 3 (Donald ary, 2004) :
  1. Wawancara terpimpin. Dalam wawncara ini, pertanyaan diajukan menurut daftar pertanyaan yang disusun.
  2. Wawancara bebas. Pada wawancara ini, terjadi tanya jawab bebas antara pewaawancara dan responden, tetapi pewawancara menggunakan tujuan penelitian sebagai pedoman penelitian.
  3. Wawancara bebas terpimpin. Wawancara ini merupakan perpaduan antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Dalam pelaksanaan wawancara, pewaawancara membawa pedoman yang hanya garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.

Wawancara banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, malahan boleh dikatakan sebagai teknik pengumpulan data utama. Dalam penelitian kualitatif tidak di susun dan digunakan pedoman wawancara yang sangat rinci. Dalam pelaksanaan wawancara,pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kondisinya.

Pengembangan pertanyaan pokok menjadi pertanyaan lanjutan atau pertanyaan lebih terurai disebut “probing” atau perluasan dan pendalaman. Kegagalan wawancara dalam arti pewawancara tidak mendapatkan data seperti yang diharapkan, baik objektifitas maupun kelengkapan.

Hal penting lain yang perlu diperhatikan dari pewawancara adalah perekaman atau pecatatan data. Jika situasi memungkinkan ada kesediaan responden untuk direkam, tersedia alat perekam yang baik. Situasi dan kondisi lingkungan yang mendukung jawaban-jawaban responden dapat direkam dengan perekam elektronik (kaset audio) bilamana akan menggunakan perekam elektronik, gunakan alat perekam yang baik, dan proses perekaman tidak mengganggu situasi wawancara. Bila perekaman tidak memungkinkan pencatatatan tertulis perlu dilakuakan dengan seksama. Dalam pembuatan catatan hasil wawancara selain dicatat jawaban atau respon dari responden yang langsung berhubungan dengan pertanyaan, juga dicatat reaksi-reaksi lainnya baik yang ditanyakan secara verbal maupun non-verbal.

3.      Pada umumnya, penilaian berbasis wawancara dibagi menjadi dua yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tidak berstruktur.

Wawancara berstruktur dilakuakan berdasarkan daftar pertanyaan dengan maksud dapat mengontrol dan mengatur berbagai dimensi wawancara tersebut. Antara lain, pertanyaan yang dilakukan telah ditentukan bahkan kadang-kadang juga jawabannya demikian pula lingkup masalah sehingga benar-benar diatasi.

   Dalam wawancara terstruktur semua pertanyaan telah dirumuskan dengan cermat, biasanya tertulis. Pewawancara dapat menggunakan daftar pertanyaan itu sewaktu melakukan interview atau juga memungkinkan mengahapalnya diluar kepala agar percakapan lancar dan wajar. Jawaban alternatif yang diberikan subjek dalam wawancara berstruktur telah  ditetepkan oleh pewawancara. Wawancara berstruktur tidak membuka kebebasan bagi responden untuk berbicara sesuka hatinya.

   Dalam wawncara berstruktur lebih bersifat informal. Pertanyaan tentang pandangan, sikap, keyakinan subjek atau tentang keterangan lainnya yang dapat diajukan secara bebas kepada subjek. Wawancara jenis ini memang tampak luas dan biasanya direncanakan agar sesaui dengan subjek dan suasana pada waktu wawancara dilakukan.

  • Sehubungan dengan instrumen yang digunakan dalam interview, Arikunto (2010) membedakan dua jenis pedoman wawancara yaitu :
  • Pedoman wawancara tidak berstruktur yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam hal ini kreatiitas pewawancara sangat diperlukan.
  • Pedoman wawancara berstruktur yaitu pedoman wawancara yang disusun secara rinci sehingga menyerupai ceklis.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

                Wawancara adalah cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumbernya. Faktor yang mempengaruhi wawancara yaitu, pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.

Wawancara ada dua jenis yaitu, wawancara berstruktur dan wawancara tidak berstruktur. Berdasarkan sifat pertanyaan wawancara dibagi menjadi 3 yaitu, wawancara terpimpin, wawancara bebas, dan wawancara bebas terpimpin. Wawancara banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. Tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data atau informasi secara lebih cepat dan mendalam.

BIMBEL PERTAMA

Bimbel atau sering disebut dengan bimbingan belajar sangat wajib bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma terutama untuk prodi PGSD. Bimbel biasanya dilakukan selama 2 kali yaitu bimbel pertama dan bimbel kedua, pada setiap bimbel mahasiswa diminta untuk memberi bimbingan kepada siswa SD yang dianggap kurang mampu menguasi materi di sekolah. Mahasiswa diwajibkan untuk Bimbel selama 14 kali pertemuan,di setiap pertemuan mahasiswa tidak boleh memberikan materi baru kepda siswa, mahasiswa hanya diperbolehkan untuk mengajar siswa yang kurang mampu dalam menguasi materi yang diberikan oelh guru di kelas.

Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sedikit pengalaman saya pada saat melakukan bimbel pertama. pertama kali saya bimbel saya mengajar di salah satu SD negeri yang terletak di kota Yogyakarta, disini saya mengajar beserta ke 4 teman saya. oh.. ya salah satu alasan saya mengajar bimbel di sd tersebut adalah pertama karena aturan dari kampus yang mewajibkan kami hanya boleh mengajar di sekolah dasar daerah Yogyakarta dan yang kedua dekat dengan kos saya dan teman-teman saya tentunnya

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai